Sekilas Tentang Masyarakat Betawi
March 26, 2005Diambil dari Bamus Betawi.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.
Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).
Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.
Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.
Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.
Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.
Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18
Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.
Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.
Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkanjalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.**Bapeda

kalau da info tentang betawi plz mail-mail ya ke mail meeeeeee?
trus untuk sejarah betawi tempo dulu nyang agak sedikit kumplit dong dari adat-istiadat sampai kebiasaan masyarakat betawi menyambut bulan ramadhan dan lebaran
Comment by engQ — July 9, 2005 @ 12:42 pm
site ini sangat menarik dan jauh lebih sederhana tapi lengkap sekali penggambarnnya mudah di cerna… kalau boleh tahu apakah ada kontak dengan si pembuat blog ini? sebab tempat kami tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang budaya dan kota secara kontemporer. untuk melihat situs kami silakan klik www.ruangrupa.org
terima kasih atas waktu dan hari nya
Comment by asung — August 22, 2005 @ 11:43 am
testcomment899
Comment by testanchor238 — October 16, 2005 @ 6:16 am
Kalo baca dari sejarah nyang diatas, ane jadi agak paham asal muasalnye etnis betawi, tapi nyang ane bingung sekarang banyak orang2 nyang diluar kota jakarta(betawi) kalo ditanya orang ape, mereka bilang orang betawi padahal mereka tinggal dan asli lahir di contoh Tangerang,Bekasi,Depok. Padahal dari sejarahnye orang betawi nyang netep di kota betawinye sendiri cuman sedikit bahkan cuman di beberapa wilayah jakarta aje alias kagak semua
Comment by R. Rizky Ramadhan — July 9, 2006 @ 5:03 am
Memang bener , orang Betawi(alias Batavia) dulunya hanya dari daerah tertentu.
Kena itu ada dulu omongan Betawi Asli dan Betawi Ora.
Dulu kota Batavia juga disebut Residentie Batavia , Tanggerang dsb sampe Serang termasuk Residentie Batavia .Jadi orang Tanggerang dsbnya bisa juga ngaku anak(orang) Betawi. Cuman kali Betawi “Pinggiran”.
Comment by menir jansen — July 11, 2006 @ 11:15 am
seneng dapet info all about batavia, especially, klo ada info tentang kegiatan2 yang arahnya ngebangun masyarakat betawi, baik pendidikan maupun ekonomi.. ajak-ajak ya..
Comment by muhamad nur — September 15, 2006 @ 7:23 am
alhamdulillah..ada juga yang mau dan berbuat untuk kemaslahatan umat, terutama anak2 yang sekarang pada lahir di jakarta…yang sudah tidak atau malah lupa sejarah ibu bapaknya…tapi karna lahir, besar, mencari jodoh serta nafkah dijakarta, hingga membuat mereka merasa seperti orang jakarta(betawi)…dari dulu orang yang tinggal dijakarta adalah orang yang berlapang dada..mereka ikhlas tanah, harta serta keturunannya dipersunting orang dari daerah lain..itu adalah ciri khas orang yang tinggal di jakarta walau dari mana, bangsa apa tapi tetap persatuan senasib serta sepengorbananlah yang membuat jakarta beraneka ragam masyarakatnya..( soorii jadi kebanyakan ngasih komentnya.. tapi buat yang bikin nih ente punye blog..pokoke caemlah..n ana ngedukung banget..cuman..bang, mpok nyak babe.. photo2 nye mane die…)
Comment by dedy — January 17, 2007 @ 10:14 am
salam kenal!!
wah ga nyangka ada betawi punya blog. ok juga. kapan2 kalo ada acara yang berhubungan dengan budaya dan seputar tentang betawi boleh nih di kabar-kabar. ok ok cang cing nyak babe?
Comment by ian — February 21, 2007 @ 7:52 am
jakarta kota lelur ku, aku pikir kota jkt sudah lewat dari nilai kebudayaan. aku terkadang sedih melihat saudara ku sesuku yang terinbasnya. metropolita bahkan sekarang merencanakan mega politan yang mencuci otak saudara ku. kini mereka menjadi mangsa moderenisasi. aku sulit sekali untuk mengatakannya. untuk saudara ku aku harap kita tidak lupa dengan budaya kita.
Comment by achmad yusuf — March 9, 2007 @ 8:20 am
situs condet nehh…..sengaje dibuat supaye kite2 pade tau segala hal tentang betawi atau betawi condet
http://condet.ifastnet.com/kampung-gue
Comment by condet — April 11, 2007 @ 7:56 am
penting banget buat orang mengetahui sejarah. apalagi mengenai masalah tanah kelahirannye. nyang namanye sejarah merupakan cerminan kita sebagai manusie untuk lebih tau siape dirinye nyang sebenernye. Blog nyang ini memang asik, cukuplah buat ngingetin kite punya sejarah orang betawi. kaya ane, sebenarnya betawinye ane juga campuran punye. darah belande, cina sampe sunda + jawa mengalir di darah ane. bener same ape nyang ente tulis. makasih banget neh udeh mau nulis kaya gini. tapi ngomong - ngomong picture jaman dulu or sekarangnye mane neh. kalo ente mau ntar ane kasih deh. ane punya kok. oke deh wassalammualikum
Comment by Erdyfa — May 23, 2007 @ 5:23 am
Assalamua’alaikum…wr.wb
Ane salut dech ada seperti ginian…tapi ane berharap klo bisa informasi2 nya lebih luas lagi and komplit, soale masing2 daerah walaupun same2 betawi beda teradisi2 and bahasa nye, kalo ane bisa usul ada Kamus Bahasa Betawi soale agar bisa ga punah buat keturunan2 kite and tambah
lagi kalo ada macam2 seni betawi seperti ksususnye seni silatnye tuh …. khan macem2. Orang2 betawi sekarang beda dengan orang dulu pastinye
ga ketinggalan zaman dunk …. mulai dari tingkat pendidikan and pergaulan pastinye bukan pade betah di wilayah aje tp banyak dah nyang
keluar negri dunk …. makasi banget Wassalamu’alaikum
Comment by lutfi — June 21, 2007 @ 8:20 am
ooo,gitu ya?
Comment by aa — June 26, 2007 @ 8:33 am
sebagai orang betawi tulen, ane baru tau kalo ternyate suku bangsa ane ntu campuranye banyak banget. nyang ane tau betawi cuman turunan cina ma arab doang.
Tapi Alhamdulillah ada juga ornag nyang mau menggali soal sejarah betawi….eh titip pesen juga ye,
buat orang-orang nyang gaye mao ngomong gaya betawi…kagak semua kate dibelakangnya pake “e”…kalo dipaksain kedengerannya jadi kagak enak….
ude ye..lam buat nyang bikin ni blog
Comment by pipit — July 1, 2007 @ 2:41 pm
Met Kenal !!!
klo butuh tenaga untuk ngebangun bidang seni ajak2,yaw?!! Sekilas info ini orang baru lulus dari institut seni indonesia yogyakarta… Aye tunggu informasinya,yew… !!!!!
Comment by Ria — July 11, 2007 @ 3:49 am
Hebat… saya kagum dengan situs ini, karena sejarah dan kebudayaan betawi masih ada yang mau menjaganya n perduli, padahal kedua orangtua saya batak tapi saya lahir dan besar di lingkungan orang betawi, saya senang dgn keakraban dan keramah-tamahannya orang betawi, padahal kalau bercanda agak jayus tapi di situ lebihnya mereka punya cara sendiri yang lebih unik untuk berkata-kata dan bercanda. jaga terus yach kebudayaan betawinya untuk bisa memperkenalkan ke budaya luar bahwa masih ada ibukotakota negara dan adat istiadatnya yang berjalan di bumi indonesia ini terutama BETAWI.(^_^)
Comment by lamdos manase — August 1, 2007 @ 11:51 am
Sebetulnya Betawi Baru Muncul Setelah Kemerdekaan Indonesia,Yang Aneh Cagar Budayanya Namanya SETU Babakan Setau Aye itu Bahasa Sunda&Melayu,Katanya Juga Dulu Orang Nggak Bisa Ngomong Batavia & Jadi Betawi,Apa Dulu Cuma Organisasi Antar Suku Aje??? Juga Tak Banyak Orang Tahu Jakarta Masuk Jawa Barat Sampai Tahun 50 An,Baca Deh Buku Republik Indonesia Djawa Barat Keluaran Tahun 1951.
Comment by Tito — August 11, 2007 @ 1:17 pm
Gue Tak becanda Di Anri juga Ada
Comment by Tito — August 29, 2007 @ 5:42 am
Buat R. Rizky Ramadhan : Etnis betawi itu mmng terbagi dlm beberapa kelompok sesuai daerah tinggalnya, ada BETAWI TENGAH (KOTA), BETAWI PINGGIR, dan yang paling luar BETAWI UDIK. Orang2 yang mengaku betawi tapi lahir dan berasal dari Tangerang, Bekasi, dan Depok termasuk Betawi Pinggir. Menurut perkembangannya, orang2 betawi tengah sudah mulai menempati daerah betawi pinggir, betawi pinggir ke udik, dan betawi udik benar2 makin terpinggir. Orang2 betawi pinggir tidak lagi mnempati pusat ibukota yang merupakan daerah asalnya. Gitu lho… saya dapt info dari kuliah Sejarah Masyarakat dan Budaya Betawi di FIB UI. Met belajar semua.
Comment by getzee — October 27, 2007 @ 1:56 pm
plisss
ksi tuw lebih bnyak lagi tntang betawi dunks
Comment by rara — November 4, 2007 @ 3:48 am
kuerenn… klo ade skalian aje poto2 nya dong di upload…
Comment by gwe-banget — March 3, 2008 @ 6:46 am
lah gw muter2 seharian cari artikel…..walang kekeke sama semua…dari yang atu ampe yang ini juga,,lah …………….
Comment by ahmad janudin — April 2, 2008 @ 11:43 am
Thanks ya, bwt yang udah bikin Blog ini, saya juga orang Betawi. Saya ucapin terima kasih, masih ada orang yang seperti anda yang care sama Betawi. Orang Betawi banyak, tapi mereka sudah jarang yang peduli dengan Budayanya, bahkan sudah gengsi untuk mengaku sebagai Orang Betawi. Orang Betawi adalah orang orang yang rendah hati, rela kampungnya diambil orang. Di Jakarta ada yang namanya Kampung Jawa, kampung Bali, kampung ambon dll. tapi Orang Betawi tidak ada yang mengklaim kampungnya sebagai kampung Betawi…..
Comment by hadi sobari — August 7, 2008 @ 9:06 am