Murtado Macan Kemayoran (1)
March 25, 2005Diambil dari buku “Cerita Rakyat Daerah DKI Jakarta” terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982.
Pada masa dahulu ketika Kompeni Belanda masih berkuasa di Indonesia, di daerah kemayoran tinggallah seorang pemuda bernama Murtado. Ayahnya adalah bekas seorang lurah di daerah tersebut. Karena sudah tua, kedudukannya digantikan oleh orang lain. Murtado mempunyai sifat-sifat yang baik, tidak sombong, baik kepada anak kecil, hormat kepada orang tua dan senantiasa bersedia menolong orang-orang yang mendapat kesusahan. Di samping itu dia tekun menuntut ilmu agama, mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan lainnya seperti ilmu bela diri dan sebagainya. Oleh karena sifat-sifatnya yang terpuji itu, maka Murtado disenangi oleh penduduk di kampung tersebut.
Ketika itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Penduduk selalu diliputi rasa ketakutan, akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak jahat ataupun gangguan dari jagoan daerah lainnya yang datang ke daerah ini untuk mengacau atau merampas harta benda penduduk, kadang-kadang mereka tidak segan-segan membawa lari anak perawan ataupun istri orang yang kemudian diperkosa dan kalau melawan disiksa dan dibunuh.
Penduduk di daerah itu kebanyakan merupakan petani-petani kecil, di samping itu ada juga berdagang kecil-kecilan seperti membuka warung kopi dan sebagainya. Akibat gangguan-gangguan keamanan ini, banyaklah warung-warung mereka ditutup, sehingga mereka jatuh melarat dan menjadi bangkrut. Di samping gangguan keamanan itu, pihak kompeni sebagai penguasa turut menyusahkan mereka dengan jalan memungut segala macam jenis pajak kepada rakyat. Di samping itu juga mereka diwajibkan menjual hasil buminya kepada kompeni dengan harga yang murah sekali. Kemudian mereka juga diperas oleh tuan-tuan tanah bangsa Belanda dan Cina yang memungut sewa tanah ataupun rumah dengan semaunya saja tanpa belas kasihan.
Selain itu penguasa baru yang disokong kompeni sebagai kakitangannya yaitu orang pribumi sendiri ialah Bek Lihun dan Mandor Bacan telah turut pula bertindak sewenang-wenang seperti merampas harta rakyat, merampas istri-istri orang ataupun anak perawan yang diculik, dikawini dan diperkosa. Tindakan mereka berdua sangat kejam dan mereka hanyalah memikirkan keuntungan pribadinya saja serta mengambil muka kepada penguasa kompeni. Pada waktu itu wakil kompeni yang ditunjuk oleh Belanda untuk menguasai daerah Kemayoran itu, adalah bernama tuan Rusendal, seorang Belanda. Di dalam melaksanakan perintah di daerah ini, Rusendal memerintahkan Bek Lihun memeras rakyat dengan segala macam pajak. Lalu Bek Lihun menugaskan pula bawahannya Mandor Bacan untuk melaksanakan segala macam pungutan liat tersebut. Siapa yang membangkang akan mereka siksa dan mereka bunuh.
Pihak kompeni di dalam melaksanakan pemerintahan di daerah ini, tidaklah memperhatikan kepentingan rakyat. Mereka tidak memperhatikan jaminan keamanan di kampung tersebut. Kalau ada para pengacau memasuki kampung, mereka tidak memperdulikan, melainkan hanya menjaga kesalamatan mereka sendiri saja. Ataupun selama kepentingan mereka tidak terganggu, mereka bersikap apatis terhadap gangguan-gangguan perampok tersebut. Tetapi kalau sampai kepentingannya dihalangi, misalnya ada seorang jagoan yang berwatak baik mencoba menghalangi para perampas rakyat kakitangan kompeni, mereka baru bertindak dengan mengadakan penangkapan-penangkapan. Setelah berhasil ditangkap, lalu dijebloskan ke dalam penjara.
Pada suatu hari di kampung Kemayoran diadakan derapan padi (panen memotong padi). Setelah meminta izin kepada penguasa, maka rakyat diperbolehkan melaksanakan upacara tersebut dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sisanya empat ikat untuk kompeni. Petugas yang mengawasi jalannya upacara itu ditunjuk Mandor Bacan.
Beberapa waktu setelah upacara itu berjalan, ada seorang anak gadis yang cantik ikut memotong padi. Murtado sebagai pemuda kampung itu juga ikut di samping gadis tersebut. Mereka rupanya sudah lama berkenalan. Tiba-tiba Mandor Bacan melihat ke arah gadis itu dan menegurnya dengan kasar “Hei, gadis cantik, kamu jangan kurang ajar dan berlaku curang ya! Coba saya lihat ikatan padimu, ini terlalu besar”.
Setelah berkata demikian, Mandor Bacan menarik ikatan padi itu dengan belatinya, kemudian gadis itu dipegangnya. Dengan menyeringai melihat wajah gadis itu, Mandor Bacan mulai ingin mempermainkan gadis ini. Dia menjadi bernafsu melihat kecantikan wajahnya. Tetapi ketika Mandor Bacan ingin memegang pipi gadis ini, tiba-tiba pisau belatinya ada yang menangkisnya, sehingga terpental jauh. Rupanya Murtado yang melihat kejadian tersebut merasa gemas akan sikap Mandor Bacan. Lalu terjadilah perkelahian antar Mandor Bacan melawan Murtado. Dalam perkelahian itu Murtado memperlihatkan ketinggian ilmu beladirinya, sehingga Mandor Bacan dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Kejadian ini dilaporkannya kepada Bek Lihun. Mendengar laporan mandornya, Bek Lihun menjadi marah dan mengancam Murtado. Tetapi Murtado sudah mempersiapkan diri dan ketika dicari oleh Bek Lihun dan anak buahnya, tidak dapat dijumpainya.
Setelah puas mencarinya, tetapi tidak bertemu Murtado, pada suatu hari Bek Lihun yang merasa penasaran mampir untuk minum-minum di sebuah warung kopi. Kemudian di warung itu ada beberapa orang anak muda, yang ternyata mereka itu adalah teman-teman Murtado, tetapi Bek Lihun tidak mengetahuinya. Beberapa waktu kemudian, ketika sedang minum-minum, lihatlah Murtado di depan warung itu. Melihat Murtadi lewat lalu Bek Lihun bangkit dari duduknya dan mengejar pemuda itu. Setelah bertemu lalu dihadangnya. Tetapi Murtado tenang-tenang saja.
Ketika Murtado akan meneruskan langkahnya, tiba-tiba Bek Lihun memegang bahunya seraya berkata:
“Hei, pemuda sombong! Kamu sok jago ya? Jangan berlagak membela rakyat. Aku jijik melihat sikapmu. Kalau kamu benar-benar berani coba rasakan kepalan tanganku ini!”
Murtado masih saja bersikap tenang, kemudian menjawab:
“Hei Lihun pemeras rakyat, kamu jangan murtad ya! Kalau kerjamu hanya memeras rakyat, pastilah Tuhan akan menghukummu. Tidak ada satupun perbuatan keji demikian yang direstui oleh Tuhan. Kelak kamu pasti akan hancur musnah, akibat perbuatan jahatmu itu. Sekarang insyaflah kamu, bahwa yang kamu peras itu adalah bangsa dan rakyatmu sendiri. Kalau kamu tidak insyaf aku sendirilah yang pertama akan menentangmu!”
Mendengar kata-kata Murtado in makin marahlah Bek Lihun. Kemudian berkata:
“Hei anak kemarin, kamu jangan banyak bicara! Kamu masih belum tahu apa-apa, ilmumu belum seberapa, jangan berani mencoba-coba. Aku pecahkan kepalamu, kamu baru tahu”.
Bersambung…

Rakyat Daerah DKI Jakarta” terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982. Murtado Macam Kemayoran (1). Sambil berkata demikian, Bek Lihun mengayunkan kep […]
Pingback by Betawi punye Blog :: Murtado Macam Kemayoran (2) — March 25, 2005 @ 4:03 pm
top bangettttt
Comment by Tommy Simanjuntak — May 18, 2005 @ 3:54 pm
ma kasih informasinye
tolong jika ente punya ceritera tentang permainan khas Betawi seperti pukulan, Gie Sau , beksi,cingkrik, slewah. Kagak enak rasanye jika ceritera Betawi tidak menyebut pencak betawi
wassalam
O’ong
Comment by O'ong maryono — June 19, 2005 @ 12:02 am
tolong bantuin gw dong,gw butuh semua info tentang budaya betawi dan semua media yang berbau budaya betawi,please help me yah.
Comment by ita suryani — April 27, 2006 @ 1:29 pm
Hi all,
aku pernah baca cerber Bek Murtado karangan Ramelan
sekitar tahun 1965, kalo ga salah dimuat di koran Warta Bakti
atau Berita Yudha. Adakah yg punya klippingnya atau bukunya?
aku bersedia membelinya dgn harga negosiasi or fotokopinya.
trims,
Yawi
Comment by yanwidjaya — November 10, 2006 @ 4:10 am
Hi all,
aku pernah baca cerber Bek Murtado karangan Ramelan
sekitar tahun 1965, kalo ga salah dimuat di koran Warta Bakti
atau Berita Yudha. Adakah yg punya klippingnya atau bukunya?
aku bersedia membelinya dgn harga negosiasi or fotokopinya.
trims,
Yawi
Comment by yanwidjaya — November 10, 2006 @ 4:11 am
ass wr wb..bang, mpok nyak babe..ane lagi nih nyang nongol ngasih koment hehehe..ge pape yee..biar rame tapi lancar…
buat redaksi.. kapan nih cerite spesial anak betawi dimuat kaye bang pitung, bang jampang, mat item, asal muasal paal mere..pan ane sebagai anak betawi campuran asl rawebelong juge pengen tau bin kenal..siape aje nih yang dulu pernah tinggal disamping ane punye rumee..kalo kuburan alm. bang pitung sih ane taauu ade di pal 7 atawe kemandoran 8 tepatnya yang sekarang jadi kantor telkom pas belokannye…cuman kok kaga dirawat.. ape karna die robin hood nye betawi sampe2 ga diakuin tau d wallahu alam bisabab…
trus jangan lupe…same mualim kebanggaan betawi. almukarom wal muhtarom Almarhum kiayi haji syafii hazami, dimane para ulama dan umaro aje pade acungin jempol ngakuiin atas ilmunya beliau.. gitu aje d saran2 nya paling ngga kan yang penting di tampung dulu..iyee ngge boss..
Comment by dedy — January 17, 2007 @ 10:31 am
Assalamu’alaikum
Aye Juga Sependapat Same Bank dedy
Iye Ceritanye Budaye Betawi nyang lain juga kan perlu kita ketahui buat anak cucu kite di kemudian harinya.
Biar Budaye betawie terus berkembang …. Hidup betawie…
Thx.
wSS
Comment by Addy — March 14, 2007 @ 6:54 am
Assalaamu’alaikum. wr. wb
salam kenal dari ane…,
kebetulan ane sering baca2x blog kayak beginian & kebanyakan semue cerite2nye bagus & hal seperti ini nyang kite butuhin buat melestarikan budaye kite khususnye betawi….
ngomong-ngomong ane punye kegelisahan neh, semue pede cerite tentang jagoan2 betawi, pendekar2x tapi ane kagak pernah denger nyang namanye ngebahas tentang “ADA APE KAGAK SIH, KERAJAAN DIBETAWI”, karena menurut ane, kagak mungkin nih kawasan betawi atawe condet, bisa dijadiin cagar budaye, kalo kagak ade sesuatu nyang nyangkut pautin ame semue ntu….
ane rase segitu aje dulu komentar ane….
makasih ye ude dikasih kesempetan
Wassalammmu’alaikum. wr.wb.
Tabek….
Comment by el gifary — July 25, 2007 @ 12:34 pm
Assalaamualaikum
Thank u banget ane ucapin ame nyang bikin blog betawian tapi ane butuh cerita Aria Prabangsa kira2 dimane dapetnye?
Comment by Djuliy — August 10, 2007 @ 5:28 pm
klu bukan qte sapa lagi yang lestariin budaya betawi. hidup betawi!!!!
Comment by kiki — October 10, 2007 @ 9:15 am
Wohoo!!! Ane (halah) bukan orang Betawi sih sebenernya, tapi Jawa turunan Arab. Aku suka banged blog ini, salah satu upaya melestarikan budaya Indonesia, khususnya budaya Betawi. Keep on goin dah!
Comment by ashiiqa — December 22, 2007 @ 3:18 am
tolong bantuin gw dong,gw butuh semua info tentang budaya betawi khususnya masyarakat betawinya.. thank you.. ^^
Comment by anggi — December 30, 2007 @ 5:42 am
assalamu alaikum semua..
Sodare-sodare.. mungkin kangen ama rumah betawi lama? cuma deh cek web www.artbuzz.vze.com. ada rumah miniatur betawi complet .
Comment by Artbizz — April 10, 2008 @ 5:15 am
sodara2.. klo ada yang mau lihat miniatur rumah betawi lengkap..coba deh www.artbuzz.vze.com
Comment by Artbizz — April 10, 2008 @ 5:17 am
Aslm wr wb , wah miniatur rumah betawinya keren jg , kalo ngeliat rumahnya aye jd pingin tinggal didalemnye ,inget masalalu , wah di PRJ entar ade dong rumah mungilnye
Comment by setia — June 9, 2008 @ 11:09 am
gue lagiada tugas nulis dongeng pake bahasa betawi. duhh bantuin dungg
Comment by sippa — August 10, 2008 @ 1:38 pm